Skip to content

Tentang Kami

Home / Tentang Kani

Tentang Kami

Latar Belakang Perusahaan – Latar Belakang Pemikiran

  1. Budaya dengar yang kuat di masyarakat

  2. Potensi Kota Cirebon

  3. Belum ada media lokal lain (dalam hal ini Radio siaran) sebagai sarana hiburan dan Informasi kecuali RRI

Berkembang dari pemikiran tersebut para pendiri mempunyai gagasan/ide untuk mendirikan Siaran Radio khusus informasi dan hiburan. Terbentur dengan perijinan yang ada pada waktu itu, melalui perjuangan yang panjang akhirnya mengudara Stasiun Radio Swasta dengan nama Radio Maritim di bawah naungan Badan Kerja Sama unsure Maritim (Baksumar) yang berlokasi dalam pelabuhan Cirebon pada tahun 1965.

Latar Belakang Perusahaan – Latar Belakang Pemikiran

  1. Budaya dengar yang kuat di masyarakat

  2. Potensi Kota Cirebon

  3. Belum ada media lokal lain (dalam hal ini Radio siaran) sebagai sarana hiburan dan Informasi kecuali RRI

Berkembang dari pemikiran tersebut para pendiri mempunyai gagasan/ide untuk mendirikan Siaran Radio khusus informasi dan hiburan. Terbentur dengan perijinan yang ada pada waktu itu, melalui perjuangan yang panjang akhirnya mengudara Stasiun Radio Swasta dengan nama Radio Maritim di bawah naungan Badan Kerja Sama unsure Maritim (Baksumar) yang berlokasi dalam pelabuhan Cirebon pada tahun 1965.

Program siarannya hanya informasi tentang kedatangan kapal-kapal barang ke pelabuhan Cirebon maupun yang pergi serta hiuran untuk Anak Buah Kapal (ABK)yang bersandar. Adapun jam siarannya mulai jam 08.00-12.00 dan 16.00-20.00 wib pada frekuwensi SW.

Sejalan dengan perkembangan jaman bermunculannya radio-radio siaran swasta, pemerintah mengeluarkan ketentuan tentang perjanjian radio swasta melalui PP 5/1970. Radio swasta harus mempunyai ijin resmi dengan persyaratan diantaranya harus berbentuk PT (Badan Hukum) dan sejumlah persyaratan lainnya. Dengan adanya PP 55/1970, Baksumar mengembalikan pengelolaan Radio Maritim kepada para pendirinya dan sejak itu Radio Maritim tidak lagi dibawah naungan Baksumar.

Lepas dari Baksumar karena ketentuan perijinan, para pendiri kemudian membentuk Badan Hukum (PT) untuk memenuhi persyaratan perijin serta melengkapi dengan persyaratan lainnya, dan jadilah PT.RADIO MARITIM RASSONIA dengan surat ijin siaran No: 308/IRS/S/1970 mengudara pada frekuwensi 3240 KC/s dengan lokasi Studio di Jl. Sisimangaraja 31 Cirebon.

SK Menteri Penerangan RI saat ini mengharuskan bahwa semua Radio Siaran Swasta untuk bergabung dalam wadah Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI). Radio Maritim Rassonia Cirebon bergabung dengan PRSSNI tahun 1972 dengan nomor keanggotaan 077-1/1972.

Pada tahun 1980 radio Maritim pindah lokasi menempati gedung sendiri di Jl. Sudarsono 20, sebuah studio siaran yang desain sesuai dengan persyaratan yang berlaku bagi radio siaran swasta. Menyadari bahwa Radio Maritim sudah menjadi bagian dari masyarakat untuk menjaga Citranya mulailah diadakan pembenahan-pembenahan khususnya dalam 3 (hal) :

  1. MANUSIA
  2. BAHAN
  3. TEKNOLOGI
  • Manusia sebagai pelaksana, sumber dayanya harus dilatih secara benar sesuai dengan fungsi dan tugasnya. Disini, management radio ditanamkan sehingga ada persepsi yang sama tentang Radio Maritim. Peningkatan sumber daya manusia dilakukan melalui penataran – penataran baik program PRSSNI atau studi banding sehingga wawasan para crew bertambah.

Berkat pembenahan-pembenahan tersebut hasilnya bisa dirasakan diantaranya adalah

Meningkatnya popularitas Maritim Rassonia Radio Cirebon
Kepercayaan klien bertambah
Income semakin baik
Meningkatnya popularitas Maritim Rassonia Radio Cirebon
Kepercayaan klien bertambah
Income semakin baik

Pada era tersebut persaingan media belu begitu ketat, sehingga posisi radio siaran swasta semakin berada diurutan 2 setelah media cetak. Presentasi pendapatan iklan pun radio masih di atas 20 % dari Billing Periklanan Nasional berdasarkan sumber dari P3I saat itu. Walaupun saat itu jam siaran yang dikomersilkan telah ditetapkan Departemen Penerangan hanya 25 %. Kondisi mulai berubah ketika TV swasta bermunculan, peta media periklanan pun mulai bergejolak walaupun tetap disambut baik sebab Billing Periklanan secara nasional naik terus.

Posisi radio swasta mulai tergeser, presentase pendapatan iklan mulai turun. Secara umum radio terkena imbasnya termasuk radio Maritim, namun secara umum radio tetap diperlukan sebagai media mix karena radio sebagai media lokal yang mempunyai kekuatan belum ada yang bisa menandingi, karena sifat dan karakter media Radio yang begitu dekat dengan masyarakat. Mengamati perubahan tersebut dengan perencanaan yang telah dipertimbangkan oleh para Direksi, Radio Maritim Cirebon mengambil langkah-langkah :

  1. Pindah Frekwensi dari AM ke FM

  2. Penajaman Format Siaran

  3. Pemilihan Format Musik

  4. Pembenahan Pola Pemasaran

  5. Pemahaman Visi & Misi

  6. Pindah Lokasi Studio

Langkah-langkah tersebut mengacu pada potensi kota Cirebon bahwa perkembangan kota Cirebon yang sebagai kota perdagangan, kota tujuan wisata dan Industri akan berpengaruh pada pola kehidupan masyarakat. Perpindahan dari AM ke FM adalah wujud untuk memenuhi selera masyaraat pendengar. Perpindahan dari AM ke FM pada tahun 1990 dengan nomor ijin : 1051/RSNP/1990. Saat itu trend radio adlah AM, FM masih belum popular, namun visi kami sudah mengarah pada kondisi yang akan datang, bahwa bagaimana teknologi tidak bisa kita abaikan.

Penajaman format baik format siaran maupun music adalah langkah untuk membentuk positioning, sehingga target dan profil audience menjadi jelas. Ada moto yang harus difahami oleh programmer dalam membuat acara yaitu : “ jangan membuat apa yang kita senangi, tapi buatlah apa yang mereka inginkan”

Berdaarkan data statistik kota Cirebon, penduduk berusia 15-24 tahun cukup banyak, itu adalah potensi pasar sasaran radio Maritim dan potensi kota Cirebon yang semakin nyata menjadi kota pemasaran.

Mengapa radio Maritim mengambil pangsa tersebut, ada alasannya yaitu :

  1. Pada masa itu belum ada radio yang menggarap kaum remaja

  2. Kaum remaja adalah pendengar radio yang dinamis melihat populasinya, merupakan potensi pasar sasaran

  3. Dari segi periklanan, produk-produk untuk remaja semakin banyak dan perlu media yang pas untuk sarana promosi

  4. Kota Cirebon merupakan kantong pemasaran yang potensial untuk daerah perbatasan dan pantura

Demikian juga dengan format musik, radio Maritim tidak menggarap musik yang telah digarap radio lain, tetapi lebih memilih musik yang digandrungi kaum remaja yaitu pop-rock-R&B dan sejenisnya yang terpilih dan terseleksi.

Dalam hal pemasaran radio Maritim lebih cenderung jemput bola yaitu pendekatan dengan klien-klien baru, membina kerjasama dengan klien-klien lama untuk saling mengisi kebutuhan informasi tentang perkembangan periklanan secara nasiona/lokal, memahami kebutuhan pemasang/pengiklan begitu juga sebaliknya. Mengundang klien-klien untuk datang ke radio Maritim untuk lebh dekat mengetahui kinerja Radio Maritim dan memahai program-programnya.

 VISI

“Menjadi radio panutan anak muda Cirebon yang berperan dalam pengembangan tingkat kecerdasan pola pikir dan kreativitas dalam membangun moral anak bangsa”

Visi ini terkandung maksud sebuah cita-cita dalam perjalanan pada masa yang akan datang radio Maritim tidak hanya melulu menjadi media hiburan dan jasa tetapi mempunyai tanggung jawab kepada generasi yang cerdas dan bermoral.

Perpindahan lokasi menjadi sebuah keputusan sebab lokasi Jl. Dr. Sudarsono menjadi kurang menguntungkan sebab tidak ada lagi lahan untuk mendirikan Tower FM dan pada tahun 1990 Radio Martim Rassonia FM pindah lokasi ke Jl. Kesambi Kampung Melati 04 Cirebon sampai sekarang.

Sejalan dengan perkembangan dunia bisnis, bermunculannya radio-radio lain di FM, menjadi semakin menarik bagi radio Maritim sebab dengan adanya pesaing, gairah untuk saling mempertahankan posisi masing-masing semakin seru. Untuk mengukur keberadaan radio Maritim di tengah-tengah persaingan yang cukup tajam, radio Maritim selalu melihat hasil penelitian melalui SWOT dan RISET oleh pihak lain atau dilakukan sendiri secara sederhana.